Senin, 22 Oktober 2018

Saat - Saat Pesawat Terbang Membuka Pintu Keluar

Kadang kita dibuat jengkel karena sudah mengambil bagasi cabin kemudian berdiri berbaris sambil membawa tas dan berdesakan dengan penumpang lain yang tas-nya sekali-kali memukul kepala kita.. Sementara itu pintu keluar pesawat belum juga dibuka, beberapa kali Pilot memberi instruksi pada Awak Cabin .....dan pintu tetapsaja terkunci.
Ini adalah urutan sebuah prosesi saat pesawat mendekati Garbarata.......

 Dari Run-away Pesawat menuju lahan parkir dan mendekati Garbarata.

 Petugas darat mulai menuntun Pilot untuk mengarahkan Pesawat.




 Garbarata mulai berjalan mendekati pintu Pesawat.




 Sementara itu semua penunjang (mobil begasi, mobil bahan bakar dll) mulai mendekati Pesawat.


Garbarata mengunci pada pintu Pesawat. Tanda aman diberikan.
 
 Hehehehehehe..... ayo...ayooo....keluar pesawat.

Rabu, 15 Agustus 2018

Memperbaharui Paspor di Kantor Imigrasi


Karena besok Januari 2019 paspor saya habis masa berlakunya, dan dibeberapa negara mensyaratkan usia paspor minimal 6 bulan sebelum kadaluwarsa, maka saya akan berbagi pengalaman tentang bagaimana saya memperpanjang paspor di Imigrasi Kelas 1 Surabaya. Disamping itu karena saya adalah pelanggan Air Asia, maka usia paspor kurang dari 6 bulan, meskipun sudah punya tiket yang valid, saat mengambil Boarding Form seminggu sebelum keberangkatan akan ditolak.....lha bisa hangus itu uang pembelian tiket tanpa ada pengembalian dana.


Lewat Google Map saya lihat ada spanduk seperti ini, yang dipasang didepan kantor menghadap kejalan besar.
            Terhitung mulai tanggal 14 Agustus 2017 tidak melayani antrian langsung/walk in.

Jadinya saya masuk ke web yang disarankan https://antrian.imigrasi.go.id 
Akan muncul tampilan seperti ini:
Karena baru pertama kali, maka jelas saya belum punya "account"
Klik "Pendaftaran !" yang ada diatas kalimat "Masuk", akan muncul format seperti dibawah ini.

Saya kira tidak ada sulitnya mengisi form itu, pesan saya jangan lupa mencatat User Name dan Password yang dibuat supaya tidak lupa.
Setelah di-isi semua klik "Simpan" ..... lhaaa ini yang selanjutnya membuat senam jantung....
Sebab account kita belum tentu cepat di-respons oleh mesin penjawab milik Imigrasi.
Berkali-kali saya membuka email, jawaban yang saya harapkan belum juga muncul.
Sementara itu account suami saya sudah mendapat balasan, tapi balasannya masuk kedalam Spam.......lhoooo....
 
                                                   Konfirmasi yang masuk ke Spam.

Saya coba masuk kedalam Spam di email saya.....bersih.....tidak ada apa-apanya.
Tunggu satu hari, esoknya ya belum muncul jawaban yang diharapkan. Sementara itu sudah tidak mungkin lagi melakukan pendaftaran account, sebab NIK yang saya masukkan sudah dicatat oleh database Imigrasi. Sehingg pendaftaran ulang selalu ditolak dengan alasan sudah terdaftar.
Berita-berita di Google ternyata yang senasib dengan saya cukup banyak......sudah daftar tapi belum mendapat balasan verifikasi.
Nekat saja saya coba kirim email ke kanim_surabaya@imigrasi.go.id.....dan...cukup menggembirakan akhirnya account saya aktif untuk pendaftaran.

1. Klik https://antrian.imigrasi.go.id
2. Isi Akun dengan User Name
    Isi Kata Sandi dengan Pass Word
    Klik "Masuk"

3. Cari Kantor Imigrasi yang akan dituju dan klik "Buat Permohonan"
4. Akan tampil tanggal yang dapat dipilih, pilih tanggal dimana kita dapat hadir di kantor Imigrasi.
5. Akan keluar balasan.

6. Kemudian cetak QR Code untuk bukti bahwa kita sudah punya antrian.

7. Jangan lupa dengan persyaratan yang harus dipenuhi. Karena saya memperbaharui paspor, maka saya cukup memfotocopy KTP dan bagian depan paspor.
Foto copy harus berukuran A4, dan jangan dipotong.

8. Akhirnya pada waktunya datang ke Kantor Imigrasi.



9. Pertama kali datang jangan lupa pulpen/ballpoint hitam dan meterai Rp. 6.000,-
Lalu antri ambil formulir.


10. Ambil formulir lalu isi dengan menggunakan tinta warna hitam dan huruf cetak.
Lalu antri ambil nomor


11. Kalau persyaratan yang kita bawa sudah memenuhi syarat maka kita akan mendapat map dengan nomor antrian.


12.Sekarang tinggal duduk manis sambil melihat nomor antrian kita dipanggil


13. Setelah dipanggil wawancara kita akan mendapat form seperti ini:


14. Kemudian dapat membayar di Kantor Pos atau Bank.
Dari informasi yang saya dapatkan, kalau membayar di Kantor Pos ditambah Rp. 15.000,- Paspor setelah selesai akan dikirim ke-rumah. Tapi saya belum membuktikan.
Saya membayar ongkos-ongkos pembuatan paspor di ATM BTN


Rangkuman:
1. Buat account on-line.
2. Pilih Kantor Imigrasi dan tanggal kunjungan. Lalu cetak QR Code
3. Datang ke Kantor Imigrasi sesuai dengan tanggal dan jam
4. Ambil Formulir dulu, jangan lupa alat tulis tinta hitam dan meterai Rp. 6.000,-
5. Antri sambil membawa persyaratan.
6. Wawancara
7. Bayar segala ongkos yang dibebankan.
8. Tunggu tanggal selesai paspor.

Dihitung tiga hari kerja setelah melakukan pembayaran, saya kembali ke Kantor Imigrasi, langsung mengecek apakah paspor saya sudah selesai diproses.

 Gunakan mesin yang ada dibagian pengambilan paspor, masukkan nomor sesuai dengan nomor penggantian paspor yang tertera dalam form pembayaran.
Apabila paspor kita sudah selesai diproses, maka akan keluar nomor antrian untuk urutan pemanggilan oleh Petugas Imigrasi.

Paspor baru selesai sudah, jangan lupa meminta paspor lama untuk kenang-kenangan. Sebab mencari stempel imigrasi dari negara-negara yang telah kita kunjungi tentu saja perlu biaya yang tidak murah.

Senin, 05 Februari 2018

Circular and Sub Urban Yangon Train


Saat berencana untuk berkunjung ke Myanmar, maka yang menjadi tujuan utama saya adalah naik kereta api dari Hsipaw ke Pyin Oo Lwin untuk melihat sendiri Jembatan Goteik. Yang kedua naik kereta api urban yang berkeliling kota Yangon. 
Menurut yang saya baca, Yangon Circular Railway adalah komuter lokal yang mengelilingi kota metropolitan Yangon. Panjang rel dari stasiun Yangon sampai stasiun Yangon lagi adalah 45,9 Km. Kereta api akan berhenti di stasiun-stasiun sepanjang loop jalur rel seperti pada peta. Konon rel kereta api ini dibangun oleh Inggris pada tahun 1954 dengan menggunakan rel double track.. Saat ini kereta api ini di operasikan oleh Myanmar railway dan disubsidi oleh pemerintah karena sangat bermanfaat bagi penduduk Yangon.

Gambar 1. Peta perjalanan kereta api circular di kota Yangon.

Gambar 2. 

Gambar 3. Sekedar mejeng didepan peta perjalanan. 
Ada yang berbahasa Inggris ada yang berbahasa Myanmar

Gambar 4. Loket tempat pembelian tiket. 
Didepan loket ada mbakyu yang ada didepan komputer, 
tugasnya memberi informasi bagi Backpacker atau Tourist yang suka tanya-tanya.

Gambar 5. Penjualan tiket kereta api non Circular Sub Urban dilayani di lobi stasiun.
Sedangkan khusus untuk kereta api Circular ini, tiket dijual diperon ditepi rel tempat kereta api datang dan berangkat.

Gambar 6. Bentuk tiket yang dijual, dari Yangon ke Yangon. 

Kalau Yangon sebagai stasiun pemberangkatan atau stasiun ke 1, maka Yangon berikut sebagai pemberhentian akhir adalah stasiun ke 39. Selain stasiun Yangon ada 37 stasiun antara yang dengan setia kereta api Sub Urban Yangon berhenti menurunkan dan menaikkan penumpang. 
Tiket dijual seharga Kyat 200,-, untuk melihat apakah harga ini murah atau mahal dapat dibandingkan dengan mata uang kita yang setara dengan Rp. 2.000,-. Nilai Kyat 200,- di Yangon dapat digunakan untuk membeli air minum satu botol ukuran 1 Liter, Kyat 500,- sudah dapat mie kuah satu mangkok. Tarip Kyat 200,- ini adalah tarip tunggal untuk jauh dekat taripnya sama persis seperti taripnya bus kota. Kalau saya lihat, Yangon dan Mandalay sebagai kota besar di Myanmar, memfasilitasi pengunjung dari luar negeri lebih baik dari pada negara lain yang memiliki huruf bukan latin. Contohnya, tiket kereta api tidak menggunakan huruf lokal, meskipun di stasiun masih kental dengan huruf-huruf Burmese.

Gambar 7. Kereta api belum datang, calon penumpang yang menunggu sudah cukup banyak. Menurut jadwal kereta api yang akan saya tumpangi ini berangkat jam 08.20 dari stasiun Yangon.

Gambar 8. Peron nomor 7. 
Dari beberapa tulisan yang saya baca, kelihatannya legendaris juga, tidak pernah berubah tempat.

Gambar 9. Sekitar jam 08.00 kereta api kelihatan datang, seperti perkereta apian kita jaman dulu, calon penumpang mulai berdesakan dipinggir rel. Tidak berbeda beberapa orang asing termasuk saya juga ikut arus penumpang lokal, ikut berdesakan.

Gambar 10.

Gambar 11.

Gambar 12.

Gambar 13. Tempat duduk didalam kereta berupa bangku panjang dengan jendela dipunggung penumpang. Ditengah-tengah terdapat ruang lebar tempat menaruh barang-barang penumpang.

Gambar. 14.

Gambar 15. Stasiun antara selalu dekat dengan pusat-pusat kegiatan, sehingga jalur rel kereta sebagian besar selalu sejajar dengan jalan raya. bahkan ada stasiun yang berdekatan dengan bandara Yangon (yang saya maksud dekat kira-kira berjarak 2 Km.). Ada juga stasiun yang dekat dengan terminal bus antar kota.

Gambar 16. Stasiun antara ada yang staiun besar, ada stasiun yang berfungsi sebagai depo lokomotif. Sebagian besar adalah stasiun kecil.

Gambar 17. 

Gambar 18. Hampir di setiap stasiun kecil, halaman dalam stasiun digunakan untuk pasar.

Gambar 19.

Gambar 20.

Gambar 21.

Gambar 22.

Gambar 23. Pak Kondektur memeriksa tiket, tidak dilubangi tapi diparap.

Gambar 24.

Gambar 25. Pedagang asongan makin lama semakin banyak. 
Termasuk pedagang sayur mulai memasukkan karung-karung berisi sayuran segar.

Gambar 26. Jagung merupakan jajanan favorit.

Gambar 27. Penjual kinang didalam gerbong kereta. Sebagian besar kaum laki-laki di Myanmar tidak merokok tetapi mengunyah sirih. Akibatnya mereka pasti meludah, sehingga dibeberapa pojok pasti ada bercak merah.

Gambar 28.

Gambar 29. Karung dan bungkusan besar-besar mulai menyita sebagian besar ruang penumpang.

Gambar 30.

Gambar 31. Sayuran segar ikut memenuhi ruangan penumpang.

Gambar 32. Ada juga tahu goreng kuning dengan bumbu pedas.

Gambar 33.

Gambar 34. Power of Tongsis.....hehehehe....numpang selfie.

Gambar 35. Berakhir sudah petualangan selama 3 jam dengan naik komuter Yangon.
Kereta api mulai masuk stasiun Yangon kembali.

Gambar 36.

Gambar 37. Penumpang belum turun semua, sudah diserbu dengan penumpang yang akan naik.

Gambar 38. Peron stasiun Yangon.

Gambar 39.